Anak sulit makan??

Banyak sekali orang tua yang mengeluhkan anaknya sulit makan, alias picky eater.  Saya juga termaksud salah satunya dan ingin berbagi tentang My picky eater story.

Sewaktu kecil saya termasuk salah satu anak yang sangat memilih makanan saya. Saya hanya makan nasi dengan kuah tanpa isinya, dan kalaupun saya mau sayur hijau, itu hanya bayam karena saya pikir bayam bisa membuat saya kuat seperti Popeye. Makan telorpun harus dengan cara didadar, yang mana putih dan kuningnya sudah tercampur rata. Saya tidak mau dan tidak berani mencoba makanan baru. Wah… saya benar-benar tidak bisa membayangkan betapa repotnya mama saya mengurus makanan saya dari kecil hingga SMA.

Sekarang saya  pemakan hampir segalanya, kecuali jeroan dan hati. Apa yang menyebabkan perubahan drastis ini dan sejak kapan saya mulai berubah? Apa yang memicu saya mau berubah?

Pernah saya berpikir seandainya mama saya dulu lebih tegas dan tidak menuruti kemauan saya, apakah saya tidak akan menjadi picky eater seperti itu? Saya pernah menanyakan hal ini kepada mama, dan mama saya  menjawab:  “Apakah kamu pikir kalau mama paksa kamu memakan ini dan itu, kamu akan mau makan? Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu sekarang? Apakah kamu menyesal  tidak memakan makanan yang enak-enak sejak kecil?.Mama saya juga menambahkan :   “Eh… tapi walaupun kamu picky eater begitu dulunya, kamu tetap sehat dan pintar banget kan, ga kekurangan gizinya kan, ga jadi bodoh kan?”

Jawaban mama membuat saya berpikir bahwa benar sekali pendekatan ‘power struggle’ tidak akan pernah berhasil. Mungkin seketika bisa kelihatan berhasil karena anak berasa dibawah tekanan atau ancaman, tapi tidak untuk jangka panjang karena bukan dari kesadaran anak untuk berubah.

Apa sih penyebab beberapa anak menjadi picky eater? Banyak orang tua sudah berusaha memperkenalkan berbagai jenis rasa dan tekstur makanan kepada bayinya sejak usia 6 bulan, namun tetap saja ketika si anak sudah memilih makanan apa yang dia mau masukkan ke dalam mulutnya, dia menjadi begitu pemilih. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Saya baru  berubah perlahan menjadi pemakan segala di masa saya sudah keluar dari rumah , tinggal di kos-an ketika kuliah jauh dari rumah. Saat itu saya mulai bisa mendapatkan ‘sense of control‘ atas diri sendiri yang selama di rumah tidak terpenuhi, sehingga tanpa sadar perilaku picky eater saya berkurang sedikit demi sedikit. Saya mulai berani mencoba berbagai variasi makanan “baru” yang sebelumnya tidak pernah mau saya sentuh.

Setiap anak perlu merasakan memiliki ‘sense of control’ untuk pertumbuhan yang sehat. Namun, apa yang terjadi di luar dirinya, tidak dapat dia kontrol. Salah satunya yang dia dapat kontrol adalah tubuhnya. Apa yang masuk ke tubuhnya bisa dia kontrol. Anak yang picky eater sebenarnya sedang menunjukkan reaksi alamiah dari kebutuhan dasar dirinya untuk memiliki ‘sense of control’.  Terkadang tanpa disadari, orang tua terlalu memaksakan pemikiran dan kemauannya untuk si anak, karena orang tua dalam pengertiannya sendiri, berusaha memberikan yang terbaik buat anak. Orang tua baru biasanya masih sangat idealis dalam membesarkan anaknya, dan itulah mengapa kasus picky eater lebih banyak ditemui terjadi pada anak pertama. Dalam banyak kasus peaky eater yang parah dan berkepanjangan, sang anak biasanya memang tipe anak yang ‘strong will’ alias berkemauan keras.

Anak yang merasa kurang mendapatkan ‘Sense of control’ di rumah, biasanya akan melakukan protes dengan menunjukkan perilaku yang dianggap bermasalah bagi orang tua atau gurunya. Salah satunya adalah menjadi picky eater.  Pada dasarnya semua perilaku anak yang dianggap bermasalah, seperti gampang trantrum, suka mem-bully,  menarik diri dari pergaulan, mengunci mulut rapat-rapat di tempat-tempat tertentu (selective mute) adalah mekanisme perlawanan dari anak untuk mendapatkan ‘sense of control’ nya kembali.

Bagaimana orang tua dapat memenuhi kebutuhan anak untuk memiliki ‘sense of control’? Kuncinya ada di kata ‘respect’. Orang tua Asia biasanya hanya mengharapkan ‘respect’ dari satu pihak yaitu dari anak ke orang tua, sehingga mereka merasa tidak perlu menghargai kehendak anak. Semua anak sangat memerlukan rasa dihargai/ dihormati, dengan memberikan mereka kebebasan untuk menentukan. Orang tua dapat memberikan beberapa pilihan kepada anak, sambil menjelaskan konsekuensi atas setiap pilihannya. Jangan berusaha mengarahkan pilihan kepada anak, biarkan anak memilih untuk mendapatkan ‘sense of control’ demi pertumbuhan yang sehat. Adakah orang tua yang suka melihat anaknya sangat penurut sehingga ketika dewasa bertumbuh menjadi tipe pengikut alias follower alias yes-man, yang tidak bisa memutuskan untuk diri sendiri , yang tidak bisa menyampaikan pendapatnya sendiri?

Freedom is not free. Freedom comes with consequences.  Memberikan kebebasan kepada anak, bukan berarti membiarkan mereka bebas dan tumbuh liar. Sebagai orang tua kita perlu menghargai apapun pilihan anak setelah kita menjelaskan konsekuensinya. Lalu, bagaimana kalau anak memilih yang jelas-jelas pilihan yang kita pikir kurang bijaksana? Saat seperti itu, selama pilihannya tidak membahayakan nyawanya, kita bisa mendampingi anak melalui semua konsekuensi dari pilihannya.

Biasanya yang sering kita dengar ketika anak memilih pilihan yang tidak sesuai dengan harapan kita adalah: “ Tuh kan mama bilang juga apa? Ga mau dengerin mama sih.” Kalimat seperti itu tidak akan membuat anak menjadi sadar dan belajar dari kesalahannya, karena yang terjadi dalam dirinya ketika mendengar kalimat itu adalah dipermalukan (shame). Dalam kondisi  seperti itu, akal sehat mereka tidak akan bisa bekerja, apapun yang  dinasihati orang tuanya akan masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Ketika anak harus menjalani konsekuensi dari pilihannya yang kurang tepat, anak biasanya akan merasa bersalah, sedih, kecewa, ataupun malu. Kita bisa menunjukkan empati kepada anak dengan tidak menyalahkannya dan menunjukkan sikap yang mendukung anak apapun yang dia rasakan saat itu. Dengan ‘gentle tone, gentle touch, and gentle look’ kata-kata kita dapat diterjemahkan anak bahwa kita benar-benar tidak sedang menghakimi dia tapi berada di pihak dia, mendukung dia menjalani konsekuensi tidak mengenakkan dari pilihan yang salah. Dengan demikian, anak akan belajar bahwa “it’s ok to make mistake.” dan akan menerima konsekuensi dari pilihan dia dengan penuh tanggung jawab. Di masa depannya dia akan menjadi anak yang tidak takut salah, berani membuat keputusan, tidak menjadi anak yang ‘play safe’ dan ‘yes-man’. Bukankah itu salah satu kualitas unggul ketika mereka bertumbuh dewasa yang bapak/ibu inginkan bagi mereka? Happy Parenting.

Moms yang memiliki anak dengan beberapa masalah emosional, picky eater, less-confidence, ketakutan, dan lain-lain bisa berkonsultasi dengan menghubungi kami di

Whatsapp :  0851-0083-8522 (Susana/ Certified Therapeutic Play Practitioner)

Email : Ang.susana@gmail.com

or click here untuk informasi lebih lanjut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s